Peribahasa Bahasa Jepang

10 02 2012

Momiji

Beberapa hari dan minggu lalu, saya sempat membaca berbagai macam peribahasa dalam bahasa Jepang. Ada beberapa peribahasa yang hampir sama di dalam bahasa Indonesia walaupun arti harfiahnya sedikit berbeda. Peribahasa bahasa Jepang itu sekilas kalimatnya sangkat singkat dan pendek namun memiliki arti yang sangat panjang. Beberapa peribahasa yang berhasil saya dapatkan adalah (dari berbagai sumber):

実るほど頭の下がる稲穂かな (みのるほどあたまのさがるいなほかな) – Minoru hodo atama no sagaru inahokana                                                          

Peribahasa ini mirip dan serupa dengan peribahasa bahasa Indonesia “seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk” yang memiliki arti seseorang yang  luhur dan mulia karena kedudukan, pangkat, jabatan, dan kaya ilmu namun tetap merunduk dan rendah hati.

転ばぬ先の杖 (ころばぬさきのつえ) – Korobanu saki no tsue

 Peribahasa ini juga ada yang serupa dalam bahasa Indonesia yakni “sedia payung sebelum hujan” yang memiliki arti selalu waspada atau mengantisipasi masalah sebelum sebuah masalah terjadi.

十人十色(じゅうにんといろ) – Juunin to iro 

Arti harfiahnya adalah sepuluh orang sepuluh warna. Maksudnya setiap orang memiliki perbedaan dalam hal pikiran dan kegemaran, jadi kita harus selalu menghargai adanya sebuah perbedaan.

猿も木から落ちる(さるもきからおちる)- Saru mo ki kara ochiru                                                                      

 Jika dalam peribahasa Indonesia ada “setinggi-tingginya tupai melompat akhirnya jatuh juga”, dalam peribahasa bahasa Jepang ada “saru mo ki kara ochiru”. Arti dari kedua peribahasa ini hampir sama, hanya menggunakan perumpamaan hewan yang berbeda. Arti harfiah dari peribahasa bahasa Jepang di atas adalah: monyetpun bisa jatuh dari pohon. Maksudnya sepandai-pandainya seorang manusia pasti pernah melakukan kesalahan.

苦しい時の神頼み(くるしいときのかみだのみ)– Kurushii toki no Kamidanomi                                        

 Berarti bahaya berlalu, Tuhan dilupakan. Ini sering terjadi pada setiap diri semua orang, kita hanya meminta, berdoa, dan mengingatNya di saat kita sedang dilanda kesusahan atau bahaya. Namun di saat bahaya/ kesusahan itu pergi malah lupa akan kekuasaan dan kebesaran Tuhan.

Kelima peribahasa ini memiliki arahan hidup untuk menuju yang lebih baik. Di tulisan selanjutnya, Nuse juga akan membagikan ilmu-ilmu bahasa dan budaya Jepang. Salam bahasa dan budaya!

referensi: berbagai sumber,

(gambar momiji)  http://www.e-glasses.jp/blog/2006/11/2007ver1.html


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: